Hari ini adalah hari ulang tahun sahabatku, “Virna”. Dia, terlihat bahagia karena orang tuanya memberinya hadiah yang indah. Sedangkan, teman-teman juga memberinya banyak hadiah.Tapi, diulang tahunnya kali ini aku tidak bisa memberinya apa-apa. Karena, keluargaku sekarang sedang kesulitan ekonomi. Aku berharap agar Virna mengerti keadaanku sekarang.Dan, ternyata Virna mengerti keadaan ku sekarang. Virna memang sahabat yang paling baik yang pernah aku miliki.Beberapa hari kemudian, Virna pun jatuh sakit. Aku ingin menjenguknya di rumah sakit. Sesampainya di rumah sakit, ibu Virna berkata, “Virna sakit parah dan kemungkinan sudah tidak ada harapan untuk hidup lebih lama”. Dia terserang penyakit yang sangat parah dan tidak ada kemungkinan untuk sembuh. Satu persatu organ tubuhnya rusak dan butuh donor yang cocok untuknya.Aku pun sedih melihat sahabat ku harus menanggung sakitnya sendiri. Aku mencoba untuk pergi ke laboratorium untuk tes apakah organ tubuh ku cocok untuk Virna. Aku ingin melihat sahabat ku hidup sehat dan bahagia seperti dulu lagi. Aku mencoba membantunya sebisa yang aku bisa.Tenyata, hasil tesnya cocok dan aku meminta izin kepada ibu untuk mendonorkan organ tubuh ku pada Virna. Tapi, ibu tidak menyetujui keputusan ku, karna ibu tidak ingin apabila nanti akibatnya terjadi padaku. Karena ibu sangat sayang padaku dan tidak ingin terjadi apa-apa dengan ku. Tapi, aku sangat ingin mendonorkan organ tubuh ku pada Virna. Aku berusaha meyakinkan ibu agar ibu menyetujui keputusan ku.Dan akhirnya, ibu mengerti betapa Virna sangat membutuhkan donor itu. Tapi, ibu juga kelihatan kurang ikhlas. ”Tapi, ini demi Virna bu...” ucapku. ”iya nak ibu mengerti perasaan mu. Tapi apakah tidak bisa menggunakan cara yang lain nak...??” jawab ibu. ”Ayolah bu...!!” ucapku. ”Yaudah, terserah padamu ibu sudah mengingatkan mu pokoknya..” jawab ibu.Setelah mendapat persetujuan ibu, keesokan harinya pun aku langsung diperbolehkan untuk pergi operasi. Alhamdulillah, operasi berjalan lancar dan selamat. Organ tubuh ku sekarang berada di dalam tubuh Virna. Kami, berdua merasa senang karena operasinya lancar.Satu hari, dua hari, rasanya badan masih terasa sehat. Tapi lama kelamaan badan semakin hari semakin lemas dan sering juga sakit. ”Apakah ini akibat dari operasi kemarin..??” tanyaku dalam hati. Akhirnya aku harus menanggung hidup ku di atas kursi roda,karena aku sudah tidak sanggup lagi untuk berjalan.Hari demi hari telah berganti, aku sudah mulai beranjak remaja. Sekarang aku sudah bersama dengan orang yang menyayangiku, yaitu “Fadil”. Fadil sangat sayang padaku dan aku pun juga sangat sayang padanya. Tapi, disisi lain Virna juga mencintai Fadil. Aku pun bingung di antara dua pilihan. Disisi lain aku sayang dan mencintai Fadil tapi, disisi lain juga aku sangat sayang dan merasa kasihan pada Virna.Akhirnya, aku putuskan untuk merelakan Fadil bersama Virna. Tapi, Fadil membantah keputusan ku. ”Dil....kamu sayang sama aku kan..? kalau kamu sayang sama aku kamu harus mau sama Virna ya” ucapku pada Fadil. ”Tapi Vina, aku sangat mencintaimu, aku gak bisa bohongi perasaan ku. Aku sangat sayang sama kamu, aku sudah terlanjur jatuh cinta sama kamu..” jawab Fadil. ”Fadil, aku ini punya penyakit yang parah..aku juga tidak bisa membebankan kamu untuk mendorong aku terus.. lebih baik kamu sama Virna ya. Dia cantik, dia pintar,dia baik hati juga.” sambung ku. (Fadil memegang kedua tangan Vina) ”Vin,walaupun kamu sakit,aku tetap sayang padamu. Aku cinta kamu apa adanya. Sungguh, aku ga bohong!” jawab Fadil. “udahlah Dil. Kamu sama Virna aja.” Jawab ku.Aku pun pergi meninggalkan Fadil dengan menangis. ”Dil,maafkan aku. Sesungguhnya aku juga tidak ingin kamu bersama dengan Virna. Tapi, ini demi Virna" Ucap ku dalam hati.“Virna Virna kamu mau kemana?” teriak Roni. ”Baiklah jika ini mau mu. Aku akan turuti mau mu. Tapi dengarkan aku Vir, aku akan tetap sayang padamu” sambung Fadil.Keesokan harinya, Fadil pun menyatakan cintanya pada Virna dihadapan ku. Aku pun senang walaupun hatiku sangat sakit dan sakit. Aku pun mengatakan selamat kepada mereka berdua. Wajah ku terlihat bahagia padahal hatiku menangis. Hatiku menangis tak masalah buat ku, yang penting sahabat ku bahagia.Hari demi hari berganti, aku pun terus belajar mulai dari pelajaran yang aku terima di sekolah karena sebentar lagi ujian kelulusan. Aku berjanji akan melupakan kejadian yang telah berlalu.Setiap Virna meminta bantuan selalu aku bantu karena, aku tidak ingin dia merasa sedih. Aku ingin Virna selalu bahagia walaupun nyawa taruhannya. Tapi,megapa Virna tidak pernah membantu ku sejak dia bersama Fadil. Seakan-akan dia sudah lupa sama sahabatnya sendiri. Saat aku terjatuh Rina seakan-akan tidak mengerti bahwa aku terjatuh. Tapi itu sudah aku anggap sebagai cobaan dalam persahabatan.Setahun telah berlalu. Aku sudah lulus dari SMA. Tapi, sayangya aku tidak bisa melanjutkan sekolahku ke tingkat yang lebih tinggi. Karena sakit ku kini makin parah. Semenjak aku mendonorkan organ tubuhku, aku menjadi sakit sakitan. Kini yang aku bisa hanya mengurung diri di dalam rumah dan tidak pernah keluar rumah. Fadil pun selalu memberiku semangat untuk sembuh. Tapi, rasanya sudah tidak mungkin lagi untuk aku sembuh.Dua tahun berlalu. Vina pun meninggal dunia. Fadil pun menangis menyesali kenapa dia harus menuruti kemauan Vina dulu. “Seandainya aku sekarang bersama Rani, Aku akan coba membuat dia bahagia di akhir hidupnya. Tapi, kini sudah terlambat bagi ku untuk melakukan itu” ujar Fadil dalam hati.Virna pun juga menyesal. ”seharusnya aku tidak menerima organ tubuhnya dulu” ucap Virna. ”Seharusnya aku yang ada di dalam sini, bukan kamu Vin... Maafkan aku ya Vin, seandainya aku tidak menerima donor tubuhmu, kamu tidak akan seperti ini. Aku sangat benci pada diriku sendiri. maafkan aku ya Vin” sambung Virna.“Sudahlah Virna. Kita tidak boleh menyesali kepergiannya. Ini sudah rencana-Nya yang di atas, syukuri saja apa yang terjadi” Jawab Fadil. Akhirnya, Virna menyadari ini sudah jalan hidup Vina. Virna hanya bisa mendo’akan Vina disana."Terima kasih Vin, atas pengorbanan mu, semoga kau tenang dan bahagia di atas sana" Ucap Virna
Selasa, 02 Februari 2016
Sahabat
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar